![]() |
| Across the universe |
27/05/2013
26/05/2013
10 Days Challenge: Favorite Quote (Di Bawah Lindungan Ka'bah)
"Ya Rabbi, Ya Tuhanku, Yang Maha pengasih dan Penyayang ! Bahwasanya, di bawah lindungan Ka'bah, rumah Engkau yang suci dan terpilih ini, saya menadahkan tangan memohon kurnia.
Kepada siapakah saya akan pergi memohon ampun, kalau bukan kepada Engkau, Ya Tuhan !
Tidak ada seutas talipun tempat saya bergantung lain dari pada tali Engkau ; tidak ada satu pintu yang akan saya ketuk, lain dari pada pintu Engkau.
Berilah kelapangan jalan buat saya, hendak pulang ke hadirat Engkau ; saya hendak menuruti orang-orang yang dahulu dari saya, orang-orang yang bertali hidupnya dengan hidup saya.
Ya Rabbi, Engkaulah Yang Maha kuasa, kepada Engkaulah kami sekalian akan kembali . . . . . "
--Hamka, Di Bawah Lindungan Ka'bah
Kalimat-kalimat di atas adalah cuplikan do'a terakhir Hamid, tokoh utama dalam novel klasik Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Hamka. Cerita yang pertama kali diterbitkan tahun 1938 ini memang cukup pendek. Nggak perlu waktu lama untuk menyelesaikan cerita ini, tapi butuh waktu cukup lama sampai aku bisa mendalami ceritanya..
Sebenernya beberapa minggu lalu aku sama teman sebangkuku, Sashi (Look I put your name on my blog, sas!) membuat kartu perpustakaan, supaya bisa pinjem buku hehehe. Akhirnya kami ngasih pas foto ke Ibu perpus dan dua hari kemudian kami udah bisa pinjam buku, deh. Awalnya gara-gara aku nemu kumpulan ceritanya Edgar Allan Poe, udah tua banget bukunya. Aku udah baca yang edisi bahasa Indonesia, seneng banget deh waktu nemu versi English-nya hehe tapi pas mau pinjem belum punya kartu anggota. Ketika mau pinjem, bukunya nggak tau ada di mana. Ya udah deh akhirnya nyari lagi, dan buku pertama yang aku pinjem Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Buya Hamka sementara Sashi pinjam Habis Gelap Terbitlah Terang, kumpulan surat-suratnya R. A. Kartini.
Ya...semenjak itu lah..jadi suka novel-novel sastra klasik. Nggak suka juga, sih. Iseng aja baca hehe. Lagipula aku baru baca dua novel karya Hamka itu aja, kok. Gimana bisa dibilang suka ya kalau cuma baru baca sedikit? -__-
Ya udah gitu aja deh. Mudah-mudahan aku bisa lebih banyak membaca yaaa! Amiin..
25/05/2013
10 Days Challenge: 4 guys you find attractive
06/05/2013
Pembangunan masa kini.
18/04/2013
Pelajaran dari Pendakian Pertama
Pengalaman pertama memang selalu berkesan. Entah hari pertama masuk SMA,
hari pertama di tempat kerja, pertama kali dapat pekerjaan, atau bahkan pertama
kali jatuh cinta haha. Nah, ini pengalaman first summit gue: Gn.
Pangrango 3.019 mdpl. Perjalanan menuju kesana akan gue ceritakan, tapi kali
ini gue pengen ngeshare pelajaran hidup yang gue dapat :)
Selama perjalanan di sana setiap kita ketemu pendaki lain, pasti selalu
saling sapa. Ketika kita udah kecapekan selama perjalanan naik dan ketemu
pendaki yang turun, pasti mereka selalu semangatin kita. "Udah deket kok,
bentar lagi sampe. Semangat terus!" Padahal mah, masih jauh hehe. Kenapa
coba mereka bilang udah deket? Yaa, itu kan jadi sugesti positif. Ketika kita
ngerasa udah dekat dengan tujuan kita, pasti kita makin semangat supaya tujuan
itu cepat tercapai. Sedangkan kalau kita ngerasa masih jauh, malah nge-down
dan udah keburu males untuk ngelanjutin.
Ketika baru sampai di Mandalawangi, kita salaman sama pendaki lain yang
udah duluan disana dan mereka nyelamatin kita karena udah berhasil sampai sana.
Pokoknya, kebersamaan di gunung itu nggak ternilai banget. Udah susah banget
pasti untuk menemukan kebersamaan yang sebegitu eratnya di kota-kota besar
seperti sekarang ini. Orang-orang yang sebelumnya nggak pernah kenal pun
rasanya jadi akrab.
Di rumah, air minum melimpah banget. Kita minum, yaa minum aja biasa
gitu. Tapi ketika disana, minum air putih aja rasanya nikmat banget. Apalagi
minum dari mata airnya langsung, bener-bener segar. Air mineral botolan yang
katanya berasal dari sumber mata air gunung blablabla yang telah diuji secara
klinis gitu-gitu aja kalah deh. Intinya, yang kita punya di rumah dan kita
anggap biasa aja, ketika di sana jadi berharga banget. Mungkin karena di sana,
kita cuma punya segitu-gitunya aja, jadi rasanya hal itu istimewa. Ngerti, kan
maksudnya? hehe.
Ketika sampai puncak, semua sakit di badan rasanya ilang semua. Baju yang
basah karena keringet dan air hujan, pundak yang sakit karena bawa beban carrier
yang cukup berat, dengkul dan betis yang kram karena jalan jauh, dan tangan yang mati rasa karena kedinginan udah nggak terasa lagi. Tapi yang paling penting, beban pikiran yang udah pesimis nggak
kuat sampe atas, mood yang udah jelek, semua ilang. Digantikan sama rasa haru
yang memenuhi dada, rasa bersyukur yang teramat-sangat. Bangga karena berhasil
sampai puncak, tapi juga merasa kecil karena kita nggak ada apa-apanya
dibandingkan dengan keagungan Tuhan yang sebegitu mempesonanya. Subhanallah...
:)
MANDALAWANGI – PANGRANGO
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
"Why did you want to climb Mount Everest?" This question was asked of George Leigh Mallory, who was with both expeditions toward the summit of the world’s highest mountain, in 1921 and 1922, and who is now in New York. He plans to go again in 1924, and he gave as the reason for persisting in these repeated attempts to reach the top, "Because it’s there."
| Mandalawangi di pagi hari (15-04-13) |
20/03/2013
Ayo menanam!
Haloooo!
Udah lama nggak ngepost hehehe.
Jadi ceritanya, minggu ini dari tanggal 17-23 Maret kelas X
dan XI libur karena kelas XII harus menghadapi Ujian Sekolah. Semangat ya aa
dan teteh!!! Tapi liburan ini sih sama aja kayak peribahasa bersakit-sakit dahulu bersenang-senang
kemudian tapi dibalik, soalnya abis libur seminggu ini kami bakalan
menghadapi ujian tengah smester! Sama aja boong, kan. Libur tapi mesti harus
belajar juga (tapi sampai sekarang gue belum belajar hehe).
Seperti biasa, waktu libur lama pasti bingung mau ngapain.
Sebenernya sih banyak banget yang HARUS dan BISA gue kerjakan selama libur ini,
tapi tetep aja gue bingung mau ngapain,
aneh ya. Sebenernya ini yang pengen banget gue kerjakan:
1. Beresin kamar
2. Kemping
3. Belajar
4. Belajar
5. Belajar
Yaah, as you know, nggak
ada satupun yang gue kerjakan. Pada akhirnya gue cuma:
1. Tidur
2. Nonton
3. Makan
4. Bengong
5. Tidur
Baru hari ini gue melakukan sesuatu yang gue anggap
produktif. Jadi, di rumah ada pohon pucuk merah (Syzygium oleana). Bagus banget, deh. Rimbun, dan daun-daun mudanya yang warnanya merah. Nah, di bawah pohonnya banyak tanaman-tanaman muda. Mungkin itu dari bijinya yang jatuh ke tanah dan tumbuh sendiri :D sayang banget kalau dibiarin gitu aja, akhirnya gue pindahin ke polybag hehehe. Lumayan kalau udah besar nanti bisa dipindahin ke tanah langsung.
| Di sela-sela rerumputan |
| Media tanam |
| Polybag |
Gampang, kan? Tinggal masukkin media tanamnya ke polybag dan tanam! Jangan lupa disiram dan taruh di tempat teduh :)
| -___- |
| Selamat berjuang, tanaman-tanaman kecil! |
Oh iya, kemarin juga bapake baru beli semacam shutter release gitu deh (nggak ngerti istilah-istilah fotografi haha) dan akhirnya kita foto-foto! hahahaha alay banget deh -___-
Oh iya, akhir-akhir ini kalau sore sering ada pelangi hahaha. Waktu itu lagi di jalan dan ada pelangi, akhirnya difoto deh! Tapi fotonya kurang bagus soalnya mobilnya lagi jalan-__- Setiap hari pemandangannya kayak gini nih (tanpa pelangi yaa), apalagi kalau gunungnya lagi keliatan jelas nggak ketutup kabut, beuhhhh... bikin gregetan pengen cepet-cepet ambil nomor kesanaa:(
| Gede Pangrango. Indah, ya? |
Yaudah deh, udah dulu ya hahaha. Dadaaaaah!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)





